Tag Archives: sendang

SEMUA ADA DENGAN BATASANNYA

Suatu malam, seorang sahabat membangunkan tidurku. Ia panik sekali. Sepanik nyamuk yang merasa terjebak. Suaranya kencang mengaung. Ada sahabat kami yang sedang bertikai dan terancam konflik ini akan berrkepanjangan.

Dengan setengah nyawa aku membuka mata dan membuka grup chatting kami. Aku kaget. Sahabat belasan tahunku menumpahkan segala kekesalannya di situ. Satu hal yang belasan tahun, tidak pernah sedetik pun aku lihat dia tunjukkan kepada siapapun. Dalam hati aku bilang, ini pasti akumulasi.

Secara personal aku chat dia untuk menanyakan ada apa. Jujur aja ada rasa takut dan cemas merayap. Karena ini bukan dia biasanya. Akhirnya dengan panjang lebar dia bercerita tentang semua rasa yang ia pendam selama ini.

Malam itu aku merenung. Pada batasan mana yang telah dilanggar sehingga seorang sahabatpun dapat berubah menjadi orang yang berbeda dari biasanya. Aku menyadari satu hal. Sedekat apapun kita, bersahabat sampai selayaknya sodara, teman-teman…tetaplah semua itu memiliki batasannya.

Seringkali kita tidak menyadari bahwa segala sesuatu itu memiliki batasan. Sebuah batas toleransi yang jika ditembus paksa pasti akan ada konflik yang menyertai. Ini yang mereka alami. Sebagai seorang sahabat sedekat apapun, kita harus tetap sadar, pada batasan mana kita dapat ditoleransi untuk bertindak. Bermaksud untuk bercanda, tapi jika itu melanggar batasan seseorang, dampaknya akan seperti banjir bandang yang menghancurkan semua.

Setiap kita dituntut untuk memiliki kepekaan saling melihat dan merasakan. Sejauh mana kita boleh bertindak jauh, dan sejauh apa. Setiap kita memiliki karakter yang unik, yang pada tingkat toleransi tertentu, kita tak lagi mampu menahan gelisah, amarah dan kecewa.

Jika kita berharap persahabatan kita akan tetap terpelihara, sudah selayaknya, kita tidak semaunya. Sudah sepantasnya jika kita tidak egois, mau merendahkan diri kita untuk saling melihat dan merasakan satu sama lain. Tidak hanya menuntut untuk dituruti atau diperhatikan, didengarkan atau dilindungi – tapi juga melakukan semua itu juga untuk sahabatnya.

Memelihara memang sulit. Namun selama kita selalu menyadari batasan itu, sejauh kita sadar bahwa kita harus berusaha untuk menjaga, menghargai dan menghormati orang lain – semua usaha kita tidak sesulit kelihatannya. Semua yang kita miliki di dunia ini memang tidaklah abadi. Tapi bukan berarti kita boleh menyia-nyiakan yang telah kita miliki saat ini.

Teman, semua pelajaran ini sungguh sangat mahal harganya. Bukan. Bukan kita dituntut untuk munafik, namun kita hanya diminta untuk tau di mana batasan kita, menghargainya dan menghormatinya. Kejujuran memang baik bagi relasi apapun. Namun jika tidak disertai oleh tanggung jawab, dia akan menjadi senjata yang kembai menyerang kita.

Jika semua sudah terjadi, luka sudah terlanjur ada….percayalah! Sembuh itu adalah sebuah kata yang jauh letaknya.

Semoga semua kita dapat menjaga, memelihara dan menghargai setiap sahabat kita. Siapapun dia!

20140613-235950.jpg


CINTA PADA KRITERIA

20140516-223424.jpg

Setiap orang pasti memiliki kriteria-kriteria khusus tentang siapa yang akan dijadikan pasangan hidupnya kelak. Biasanya para cewek pasti akan mencari calon suami yang mapan. Sisanya adalah kriteria tambahan yang diterapkannya. Dan para cowok biasanya akan mencari calon istri yang cantik luar dan dalam yang tentunya juga menurut pada suami. Sisanya dia yang tentukan. Bahkan di banyak artikel, pada agama tertentu mengajarkan supaya umatnya mencari calon pendamping hidupnya kelak dengan beberapa kriteria yang sudah disarankannya.

Yang paling banyak disebutkan pada kriteria yang wajib dipenuhi sebagai calon pasangan hidup adalah yang baik. Baik seringkali mengaburkan. Karena banyak orang yang mencari orang baik, maka seringkali orang akan berusaha tampil baik untuk memikat calon pasangannya. Karena dalam baik biasanya tidak ada kriteria konkret. Ia hanya mampu dirasakan.

Sebenarnya baik itu relatif. Saya percaya setiap kita ini dilahirkan menjadi orang baik. Mungkin akan kelihatan tidak baik jika memang bukan pada pasangannya. Bukankah magnet bila kutub yang tidak ditakdirkan berpasangan, jika didekatkan akan tolak menolak?

Pernah saya bertanya kepada teman-teman saya yang sudah berpasangan, kenapa mereka memilih pasangan mereka. Selalu satu kata pertama yang diucapkan adalah karena dia baik. Ya, baik sudah menjadi kriteria umum. Sedikit orang yang memasukkan kriteria di luar baik ini dalam kriteria mereka mencari pasangan hidup.

Dengan budaya yang ada di Indonesia, kriteria selanjutnya yang sering disebut adalah seagama dan sesuku. Ini yang penting juga. Karena agama adalah landasan kita dalam berpikir dan bertindak. Tidak berbeda saja banyak masalah yang dihadapi, bagaimana jika berbeda? Itu sama saja memasukkan diri dalam pencobaan.
Begitu kalimat yang sering mereka dengungkan dulu kepada saya.

Ya. Semua akan memiliki kriteria dalam mencari pasangan. Bukan karena sombong melihat diri terlalu tinggi. Tapi kriteria ini adalah sebuah penilaian yang dianggap mampu untuk mengisi dan menselaraskan perjalanan hidup kita di tahap-tahap selanjutnya. Kriteria-kriteria itu merupakan filter kita dalam mencari pasangan kita. Bahkan bisa jadi jika kita tidak menerapkan kriteria tertentu, orang akan melihat kita sebagai sosok yang gampangan. Namun jika kita keukeuh mencari yang sesuai dengan semua kriteria kita, orang akan memicingkan mata dan berkata, “dasar pilih-pilih. Kayak situ kecakepan aja”. Hahahahhahahaha….

Ya. Sepertinya lebih sedikit orang yang beruntung yang berjodoh dengan pasangan yang sesuai dengan kriteria idamannya. Namun, apakah benar dalam segala sisi semua terpenuhi? Misalnya kita menerapkan 3 kriteria ideal pada pasangan kita, apakah lalu semua akan berjalan mulus dan sempurna? Hohohohoho…tentu saja tidak! Mungkin 3 kriteria itu telah terpenuhi, tapi apakah karakter lainnya dapat ditoleransi? Pada tahap ini nanti, tentu ada adaptasi yang harus dijalani. Tidak mudah. Sangat tidak mudah.

Lepas dari segala kriteria itu, adalah cinta yang utama. Ketika cinta sudah menyapa, tidak sedikit orang terheran-heran. Karena terkadang cinta jatuh pada seseorang di luar kriteria-kriteria khusus yang dipancangkan. Cinta terkadang memang penuh misteri. Namun cinta juga tidak melepas logikanya. Saat Sang Cinta sudah mempertemukan, sejauh apapun hati berusaha berlari, ia akan tetap mengikuti.

Memegang teguh kriteria ideal idaman memang perlu. Namun, semua bisa lebur saat cinta telah ada. Dimana ada cinta, di situlah kebahagiaan kita berada. Karena hanya cinta yang akan memberi kita iman dan harapan untuk tetap berjuang.


34

20140430-024249.jpg


AKU DAN MOVE ON

6 bulan lebih aku baru putus dari hubungan lebih dari 4 tahunku. Hubungan yang sudah memberi aku harapan pada masa depan bersama. Hubungan yang selalu tidak pernah membuatku bosan untuk bertemu dengannya setiap hari. Hubungan yang ketika kupandang wajahnya, terasa selalu ada cinta baru yang tumbuh yang selalu bisa membuat aku berbinar. Hubungan yang sejenak saja kulepas dia dari doaku, maka hilanglah dia hingga saat ini dari hidupku.

Beberapa bulan setelah aku putus dengan pacar 4 tahunku itu, aku pacaran dengan seorang teman curhatku waktu itu. Awalnya semua keliatan pada tempatnya. Kita saling curhat karena sama-sama baru putus pacaran. Namun berlalunya waktu, rasa yang kurasa ada, serasa ikut berlalu. Dan begitulah. Akupun memutuskannya.

Aku sadar. Cinta 4 tahunku masih saja ada di hati dan pikiranku. Aku sadar, meski tak beranjak sebulan dari putusnya aku ma dia, sudah ada cewek lain yang menggantikanku. Aku sadar, sedalam itu luka dan sakitku, tapi aku tak pernah bisa untuk sedikit saja benci dan marah ke dia. Aku sadar, semua masih tersimpan rapi hingga saat ini, meski goresan luka begitu dalamnya. Aku sadar, bahwa aku ini demikian bodohnya.

Ketika aku punya pacar baru, semua teman bersorak sorai. Gimana engga? Dia lebih ganteng. Dia lebih tua umurnya. Dia seagama (yang satu ini masih juga penting, dan sedikit merubah cara pandangku pada kebebasan memilih pasangan). Dan yang paling penting, bahwa aku sudah move on dari sang mantan terindah – demikian aku dan sahabatku menyamarkan sosoknya.

Sebelum punya pacar baru, setiap orang selalu memotivasiku untuk move on. Temanku yang adalah sahabat sang mantan terindahku, mengirimku beberapa artikel tentang move on. Dengan logikaku tak pernah aku memahami apa itu move on. Jadi, sangat ga heran kan kalo semua senang. Mereka menganggap aku uda move on.

Lama aku baru paham. Move on itu bukan sekedar mengganti pacar lama dengan yang baru. Bukan sekedar, okay aku putus. Supaya bisa move on aku harus cari gantinya. Bukan. Bukan itu. Aku ini bukti nyata dari arti kata move on. Dia ga hanya sekedar wajah yang tersenyum dan tak lagi mata meneteskan air mata. Move on tidak mensubstitusi. Move on bukan replacement. Move on itu ada dalam hati dan pikiran kita.

Seorang sahabatku sering menggoda aku – yang suka bikin aku kesel – ayuklah say, hidupmu harus move on. Kamu sudah berhasil membuktikan bahwa cari pacar baru itu lebih gampang daripada cari pembantu baru kan? Olalaaaa….pengen aku sambet pake monitor komputer tu bocah. Terkadang banyak hal tu enteng aja gitu kluar dari mulutnya. Pernah dia juga umpakan orang yang sudah berpindah tempat kerja tapi masih saja intervensi pada yang sudah ditinggalkan. Dia bilang kalo yang seperti itu juga belum move on.

Sebenernya, dari sahabat nyinyirku itu aku bener-bener noleh lagi gitu ke hidupku. Bener ga sih aku uda move on? Ato itu cuman kamuflase aja? Jawabannya adalah belum. Aku nemu bahwa move on itu asalnya dari hati dan pikiran kita. Akarnya pada kerelaan total untuk melepas. Mengucap kata berpisah iya, tapi apakah melepas? Belum tentu. Jika hati dan pikiran masih saja dipenuhi kenangan lama, meski realita sudah di tempat baru, apakah itu bisa dikatakan move on? Tentu tidak. Kita dikatakan move on ketika dalam hati, dalam pikiran kita sedalam-dalamnya dengan penuh kejujuran mengatakan, ya…aku rela melepaskan. Itu move on. Namun jika belum? Sebaiknya coba diliat ke dalam lagi de.

Pada akhirnya, aku dan temanku pake kata move on dalam segala situasi – ya, biar aku juga ga sensi sensi banget gitu ma kata ini. Terakhir kita pake istilah ini ke temen kita yang pengen pake android tapi masih terpaku ma blackberrynya. Kita bilang, “kamu harus move on, koh”. Hahahahhahaha

Bahagia itu sebuah kewajiban. Ini kalimat yang aku temukan. Bahagia bukan lagi pilihan tapi kewajiban kita. Sangat tidak mudah memang membuang begitu saja kenangan 4 tahun berbagi hidup dan rencana masa depan. Namun, kitapun harus realistis. Hidup memang terus berlanjut dan berjalan, tapi apakah move on menjadi pilihan?

Hanya hati yang mampu menjawab.

SendangSiena

20140104-035447.jpg


SEPEDA TUA

Bagaimana lagi aku harus berpikir, berkata-kata dan berolah rasa? Semua terjadi sedemikian cepatnya, secepat aku menarik nafas.

Entahlah. Aku hanya merasa bahwa inilah yang terbaik saat ini. Beradu kuat dengan keadaan terkadang aku cukup kelelahan. Tak ada lagi tempat untukku berlari, selain bertelut di bawah kakiMu.

Inilah sebuah pelajaran berharga dalam hidupku. Aku benar-benar harus bersabar dengan hati yang terluka, seolah ekspresinya adalah ejekan buatku. Tidak…tidak….bukan aku ingin membatasi kebebasan berekspresi, aku hanya berharap jika ada sedikit ruang untuk menghargai sakit yang kurasakan. Berkenankah sejenak saja kendalikan euforia?

Tapi apalah lagi hakku untuk menuntut itu? Bukankah seorang filsuf berkata, jika ingin dunia berubah maka aku yang harus terlebih dahulu berubah?

Tak hentinya aku berpikir, masa yang telah terenda sekian lama hanya sekejab saja hanyut oleh banjir kecil. Entah kebodohanku atau bagaimana. Hanya saja, saat ini aku berusaha memahami lalu menerima. Bahwa segala ini terjadi atas ijinNya.

Bagaimana dengan esok atau lusa? Entahlah. Memikirkannya saja sudah membuatku jengah. Biar. Biarkan Sang Empunyaku saja yang berkehendak.

Kini aku tak lagi punya rencana. Aku tidak pantas Engkau datang padaku. Bersabdalah ya, Engkau…aku akan mendengarkanMu.

20130708-132336.jpg


The Day

Dan, inilah harinya…
Ketika sapaan sang waktu tiba
Saat deretan angka usiapun bertambah.

Dan, inilah harinya….
Tatkala aku melantunkan sejuta asa
Di waktu aku menyamakan saatku dengan saatNya.

Tak pernah cukup litani pujian untukNya
Atas semua yg telah kuterima

Inilah aku, Tuhan….
Mampukan ku menerima duka,
Sama seperti ku menerima suka.
Mampukan aku untuk menjadi dewasa,
Dan tegar menjalani panggilanMu saja.

Inilah aku, Tuhan….
Dengan segala salah dan dosa,
Pada janji baptis ingin tetap setia….

Surabaya, 14 April 2013

20130506-004636.jpg