Tag Archives: hidup

MADIUN, 17 DESEMBER 2014

20141230-004906.jpg

Dear You Two,

Hingga hari ini aku masih merasakan luka yang perih karena aku harus kehilangan harapan dan cintaku. Hingga hari ini aku masih dipenuhi oleh amarah dan rasa iri akan kebahagiaan kalian. Sampai beberapa menit lalu aku selesai nonton eat pray love yang diputar di tv cable. Aku tertegun di atas kasur. Aku menahan sesak di dadaku. Aku cuman mampu memandang hamparan hijau dari balik kaca jendela kamar hotelku. Hanya dengan begitu aku mampu mengalihkan air mata yang akan tumpah.

Sampai akhirnya aku membuka facebook, mengaduknya, lalu menemukan catatan-catatan kecilku 5 tahun yang lalu. Catatan di tahun 2009 ketika aku menemukan cinta 🙂

Hanya ada 2 pilihan saat ini di hidupku. Tetap menyimpan sakitku dalam perjalananku, atau memilih untuk berdamai, memaafkan diri sendiri lalu menyembuhkannya. Aku tidak tahu bagaimana caranya, menghilangkan semua sakit, ketakutan dan trauma ini. Tapi aku akan tetap berjalan.

Dear you two, akupun memutuskan untuk berdamai. Cukup panjang waktu dan proses yang kulalui. Dan akupun tidak tahu kapan ini akan berakhir. Namun aku harus menyampaikan maaf buat kalian berdua, karena selalu ada doa yang tidak baik dalam lantunan harapanku untuk kalian berdua.

Ya. Cinta memang tidak pernah salah memilih. Meskipun konsekuensi dari semua itu adalah mungkin ada yang merasa sakit.

Hari ini, perjalanan penyembuhan itu aku mulai. Aku minta maaf untuk semua perbuatan tidak menyenangkan yang kalian terima. Aku minta maaf untuk semua doa tidak baik yang aku kirim untuk kalian. Aku minta maaf karena ada yang sempat merasa tidak kuhargai dan tidak kuperlakukan dengan baik.

Aku menerima bahwa semua orang datang dalam hidupku ini untuk mengajarkan sesuatu buat aku. Dan kalian berdua adalah guru untukku. Hari ini aku melihat postingan seorang teman yang lagi mendengarkan lagu Rapuh punya Padi. Ya. Proses seperti ini bukan hanya milikku.

Aku hanya berharap, di penghujung tahun ini, aku ingin mengakhiri segala hal ga baik yang ada di hidupku. Melangkah dengan kedamaian dan harapan. Dan menyematkan senyum ketika memandang kalian. Aku ingin, sebelum Natal menjemputku, aku telah bersihkan hati dan pikiranku dari segala amarah.

Lepas dari semuanya, aku merasa bahagia ketika orang yang kucintai bahagia. Yang harus kuhilangkan hanyalah perih dan dendam yang datang bersamaan.


SEMUA ADA DENGAN BATASANNYA

Suatu malam, seorang sahabat membangunkan tidurku. Ia panik sekali. Sepanik nyamuk yang merasa terjebak. Suaranya kencang mengaung. Ada sahabat kami yang sedang bertikai dan terancam konflik ini akan berrkepanjangan.

Dengan setengah nyawa aku membuka mata dan membuka grup chatting kami. Aku kaget. Sahabat belasan tahunku menumpahkan segala kekesalannya di situ. Satu hal yang belasan tahun, tidak pernah sedetik pun aku lihat dia tunjukkan kepada siapapun. Dalam hati aku bilang, ini pasti akumulasi.

Secara personal aku chat dia untuk menanyakan ada apa. Jujur aja ada rasa takut dan cemas merayap. Karena ini bukan dia biasanya. Akhirnya dengan panjang lebar dia bercerita tentang semua rasa yang ia pendam selama ini.

Malam itu aku merenung. Pada batasan mana yang telah dilanggar sehingga seorang sahabatpun dapat berubah menjadi orang yang berbeda dari biasanya. Aku menyadari satu hal. Sedekat apapun kita, bersahabat sampai selayaknya sodara, teman-teman…tetaplah semua itu memiliki batasannya.

Seringkali kita tidak menyadari bahwa segala sesuatu itu memiliki batasan. Sebuah batas toleransi yang jika ditembus paksa pasti akan ada konflik yang menyertai. Ini yang mereka alami. Sebagai seorang sahabat sedekat apapun, kita harus tetap sadar, pada batasan mana kita dapat ditoleransi untuk bertindak. Bermaksud untuk bercanda, tapi jika itu melanggar batasan seseorang, dampaknya akan seperti banjir bandang yang menghancurkan semua.

Setiap kita dituntut untuk memiliki kepekaan saling melihat dan merasakan. Sejauh mana kita boleh bertindak jauh, dan sejauh apa. Setiap kita memiliki karakter yang unik, yang pada tingkat toleransi tertentu, kita tak lagi mampu menahan gelisah, amarah dan kecewa.

Jika kita berharap persahabatan kita akan tetap terpelihara, sudah selayaknya, kita tidak semaunya. Sudah sepantasnya jika kita tidak egois, mau merendahkan diri kita untuk saling melihat dan merasakan satu sama lain. Tidak hanya menuntut untuk dituruti atau diperhatikan, didengarkan atau dilindungi – tapi juga melakukan semua itu juga untuk sahabatnya.

Memelihara memang sulit. Namun selama kita selalu menyadari batasan itu, sejauh kita sadar bahwa kita harus berusaha untuk menjaga, menghargai dan menghormati orang lain – semua usaha kita tidak sesulit kelihatannya. Semua yang kita miliki di dunia ini memang tidaklah abadi. Tapi bukan berarti kita boleh menyia-nyiakan yang telah kita miliki saat ini.

Teman, semua pelajaran ini sungguh sangat mahal harganya. Bukan. Bukan kita dituntut untuk munafik, namun kita hanya diminta untuk tau di mana batasan kita, menghargainya dan menghormatinya. Kejujuran memang baik bagi relasi apapun. Namun jika tidak disertai oleh tanggung jawab, dia akan menjadi senjata yang kembai menyerang kita.

Jika semua sudah terjadi, luka sudah terlanjur ada….percayalah! Sembuh itu adalah sebuah kata yang jauh letaknya.

Semoga semua kita dapat menjaga, memelihara dan menghargai setiap sahabat kita. Siapapun dia!

20140613-235950.jpg