TODAY MY LIFE BEGINS – Bruno Mars

I’ve been working hard so long
Seems like pain has been my only friend
My fragile heart’s been done so wrong
I wondered if I’d ever heal again

Oh just like all the seasons never stay the same
All around me I can feel a change (oh)

I will break these chains that bind me, happiness will find me
Leave the past behind me, today my life begins
A whole new world is waiting its mine for the taking
I know I can make it today my life begins

Yesterday has come and gone
And I’ve learn how to leave it where it is
And I see that I was wrong
For ever doubting I could win

Oh just like all the seasons never stay the same
All around me I can feel a change (oh)

I will break these chains that bind me happiness will find me
Leave that past behind me today my life begins
A whole new world is waiting its mine for the taking
I know I can make it today my life begins

Life’s too short to have regrets
So I’m learning now to leave it in the past and try to forget
Only have one life to live
So you better make the best of it

I will break these chains that bind me happiness will find me
Leave the past behind me today my life begins
A whole new world is waiting its mine for the taking
I know I can make it today my life begins

I will break these chains that bind me happiness will find me
Leave the past behind me today my life begins
A whole new world is waiting its mine for the taking
I know I can make it today my life begins

(http://youtu.be/AsUhV5TLRaE)


HIDUP ADALAH SEBUAH JABATAN

Hidupku milikNya.
Waktuku milikNya.
Tak ada secuilpun rencanaku,
Yg ga harus sinkron dgn rencanaNya.
Maka berserah adalah bagian dr job desk kita.

#sendang

View on Path


34

20140430-024249.jpg


Terkadang memfavoritkan sebuah film itu krn kita melirik lagi perjalanan dlm hidup kita #sendang

View on Path

Continue reading

– with Michael Ricky

View on Path

Continue reading

Orang yg menjadi dirinya sendiri tu karakternya pasti kuat dan auranya kluar #sendang :))

View on Path

Continue reading

AKU DAN MOVE ON

6 bulan lebih aku baru putus dari hubungan lebih dari 4 tahunku. Hubungan yang sudah memberi aku harapan pada masa depan bersama. Hubungan yang selalu tidak pernah membuatku bosan untuk bertemu dengannya setiap hari. Hubungan yang ketika kupandang wajahnya, terasa selalu ada cinta baru yang tumbuh yang selalu bisa membuat aku berbinar. Hubungan yang sejenak saja kulepas dia dari doaku, maka hilanglah dia hingga saat ini dari hidupku.

Beberapa bulan setelah aku putus dengan pacar 4 tahunku itu, aku pacaran dengan seorang teman curhatku waktu itu. Awalnya semua keliatan pada tempatnya. Kita saling curhat karena sama-sama baru putus pacaran. Namun berlalunya waktu, rasa yang kurasa ada, serasa ikut berlalu. Dan begitulah. Akupun memutuskannya.

Aku sadar. Cinta 4 tahunku masih saja ada di hati dan pikiranku. Aku sadar, meski tak beranjak sebulan dari putusnya aku ma dia, sudah ada cewek lain yang menggantikanku. Aku sadar, sedalam itu luka dan sakitku, tapi aku tak pernah bisa untuk sedikit saja benci dan marah ke dia. Aku sadar, semua masih tersimpan rapi hingga saat ini, meski goresan luka begitu dalamnya. Aku sadar, bahwa aku ini demikian bodohnya.

Ketika aku punya pacar baru, semua teman bersorak sorai. Gimana engga? Dia lebih ganteng. Dia lebih tua umurnya. Dia seagama (yang satu ini masih juga penting, dan sedikit merubah cara pandangku pada kebebasan memilih pasangan). Dan yang paling penting, bahwa aku sudah move on dari sang mantan terindah – demikian aku dan sahabatku menyamarkan sosoknya.

Sebelum punya pacar baru, setiap orang selalu memotivasiku untuk move on. Temanku yang adalah sahabat sang mantan terindahku, mengirimku beberapa artikel tentang move on. Dengan logikaku tak pernah aku memahami apa itu move on. Jadi, sangat ga heran kan kalo semua senang. Mereka menganggap aku uda move on.

Lama aku baru paham. Move on itu bukan sekedar mengganti pacar lama dengan yang baru. Bukan sekedar, okay aku putus. Supaya bisa move on aku harus cari gantinya. Bukan. Bukan itu. Aku ini bukti nyata dari arti kata move on. Dia ga hanya sekedar wajah yang tersenyum dan tak lagi mata meneteskan air mata. Move on tidak mensubstitusi. Move on bukan replacement. Move on itu ada dalam hati dan pikiran kita.

Seorang sahabatku sering menggoda aku – yang suka bikin aku kesel – ayuklah say, hidupmu harus move on. Kamu sudah berhasil membuktikan bahwa cari pacar baru itu lebih gampang daripada cari pembantu baru kan? Olalaaaa….pengen aku sambet pake monitor komputer tu bocah. Terkadang banyak hal tu enteng aja gitu kluar dari mulutnya. Pernah dia juga umpakan orang yang sudah berpindah tempat kerja tapi masih saja intervensi pada yang sudah ditinggalkan. Dia bilang kalo yang seperti itu juga belum move on.

Sebenernya, dari sahabat nyinyirku itu aku bener-bener noleh lagi gitu ke hidupku. Bener ga sih aku uda move on? Ato itu cuman kamuflase aja? Jawabannya adalah belum. Aku nemu bahwa move on itu asalnya dari hati dan pikiran kita. Akarnya pada kerelaan total untuk melepas. Mengucap kata berpisah iya, tapi apakah melepas? Belum tentu. Jika hati dan pikiran masih saja dipenuhi kenangan lama, meski realita sudah di tempat baru, apakah itu bisa dikatakan move on? Tentu tidak. Kita dikatakan move on ketika dalam hati, dalam pikiran kita sedalam-dalamnya dengan penuh kejujuran mengatakan, ya…aku rela melepaskan. Itu move on. Namun jika belum? Sebaiknya coba diliat ke dalam lagi de.

Pada akhirnya, aku dan temanku pake kata move on dalam segala situasi – ya, biar aku juga ga sensi sensi banget gitu ma kata ini. Terakhir kita pake istilah ini ke temen kita yang pengen pake android tapi masih terpaku ma blackberrynya. Kita bilang, “kamu harus move on, koh”. Hahahahhahaha

Bahagia itu sebuah kewajiban. Ini kalimat yang aku temukan. Bahagia bukan lagi pilihan tapi kewajiban kita. Sangat tidak mudah memang membuang begitu saja kenangan 4 tahun berbagi hidup dan rencana masa depan. Namun, kitapun harus realistis. Hidup memang terus berlanjut dan berjalan, tapi apakah move on menjadi pilihan?

Hanya hati yang mampu menjawab.

SendangSiena

20140104-035447.jpg


SEPEDA TUA

Bagaimana lagi aku harus berpikir, berkata-kata dan berolah rasa? Semua terjadi sedemikian cepatnya, secepat aku menarik nafas.

Entahlah. Aku hanya merasa bahwa inilah yang terbaik saat ini. Beradu kuat dengan keadaan terkadang aku cukup kelelahan. Tak ada lagi tempat untukku berlari, selain bertelut di bawah kakiMu.

Inilah sebuah pelajaran berharga dalam hidupku. Aku benar-benar harus bersabar dengan hati yang terluka, seolah ekspresinya adalah ejekan buatku. Tidak…tidak….bukan aku ingin membatasi kebebasan berekspresi, aku hanya berharap jika ada sedikit ruang untuk menghargai sakit yang kurasakan. Berkenankah sejenak saja kendalikan euforia?

Tapi apalah lagi hakku untuk menuntut itu? Bukankah seorang filsuf berkata, jika ingin dunia berubah maka aku yang harus terlebih dahulu berubah?

Tak hentinya aku berpikir, masa yang telah terenda sekian lama hanya sekejab saja hanyut oleh banjir kecil. Entah kebodohanku atau bagaimana. Hanya saja, saat ini aku berusaha memahami lalu menerima. Bahwa segala ini terjadi atas ijinNya.

Bagaimana dengan esok atau lusa? Entahlah. Memikirkannya saja sudah membuatku jengah. Biar. Biarkan Sang Empunyaku saja yang berkehendak.

Kini aku tak lagi punya rencana. Aku tidak pantas Engkau datang padaku. Bersabdalah ya, Engkau…aku akan mendengarkanMu.

20130708-132336.jpg