Category Archives: Real Me

Tadi di jalan ke kantor aku mikir. Kita harus menjadikan diri kita layak bagi orang lain. Kita harus mengisi diri kita dengan sesuatu yang bernilai. Hidup dan bekerja tak hanya sekedar hidup dan bekerja. Tapi ada nilai yang harus diperjuangkan. Dengan begitu kebahagiaan dicapai tidak akan selalu kita tuntut dari orang lain untuk memenuhinya.

Itulah puncak pergumulanku dari sekian banyak kejadian yang dalam sebulan ini kujalani. Aku menemukan keterkaitan dengan tema ulang tahun UC kali ini. Memaknai Syukur, Memaknai Kerja. Apa artinya itu buat aku. Kepada managerku aku bilang, hmmm…aku banget.

Siang ini, Rm. Frans Magnis Suseno, SJ dengan lantang berkata bahwa hidup kita haruslah bermanfaat bagi orang lain. Adalah sangat mudah bagi kita berjalan seperti robot mengarungi waktu. Namun akan menjadi kebanggaan bagi diri kita ketika adanya kita menghadirkan makna bagi hidup orang lain. Kita yang memilih.

Amin.
UC-29.08.2015

View on Path


SEKARANGLAH UNTUK ORANG TUAMU

20150525-211826.jpg

Dini hari berita duka datang merayap.
Seorang sahabat telah kehilangan bapaknya. Beliau kembali ke pelukan Sang Cinta setelah berproses dengan kanker yang bersarang.

Tak ada banyak kata yang mampu terucap. Semua menjadi tercekat. Peristiwa hampir 3 tahun lalu itu kembali berputar dan terulang. Aku tau bagaimana rasa itu. Aku tau sejauh apapun kita mempersiapkan diri, tetap saja tak mampu menepis rasa duka dan perihnya kehilangan.

Akhirnya hanya kalimat ini yang meluncur: “Ya, yang terbaik sudah diberikan keluarga. Kini tempat terbaik sudah menanti bapak”. Hmmm….aku tau kalimat inipun tak cukup menghibur dan mengurangi duka saat ini.

Bagi seorang anak, tak akan pernah kita merasa cukup waktu untuk memberikan kebahagiaan dan kebanggaan maksimal kepada kedua orang tua kita. Sebagai seseorang yang pernah merasa depresi karena kehilangan seorang bapak, aku hanya bisa berkata bahwa, selagi kita memiliki waktu – pergunakanlah itu sebaik mungkin untuk mengekspresikan kasih kita untuk orang-orang di sekeliling kita – terurama orang tua kita.

Dan aku bersyukur pernah diberi Tuhan kesempatan untuk itu sebelum bapakku benar-benar pergi dari hidupku untuk selamanya.

Aku percaya, bahwa sahabatku dan keluarganyapun sama. Telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merawat dengan obat doa dan kasih, meski sisa waktu yang ada tak sampai sebulan lamanya. Lalu, bagaimana denganmu, teman? Jika kamu merasa belum, lakukanlah sekarang.

Jangan menunggu. Jangan menunda. Karena penundaan itu bisa memberimu rasa penyesalan nantinya.

[25 Mei 2015]

Rasa kehilangan dan duka mendalamku untuk keluarga Bpk. Leonardus. Selamat jalan, pak. Kesembuhan abadi menyambutmu.


Tadinya aku pikir, duduk sebentar di Moncheri mo lanjutin tulisan. Tapi jeda dari berita beberapa saat tadi membuat aku bertanya.

Ikut berduka cita untuk kita semua. Atas teman kita, atas saudara kita, sahabat kita, kenalan kita, dan sesama kita. Mereka telah terlebih dahulu menjemput kebahagiaan kekalnya. Semoga semua kita dengan kepenuhan hati rela menerima semua ini. #AirAsia #QZ8501

View on Path


MADIUN, 17 DESEMBER 2014

20141230-004906.jpg

Dear You Two,

Hingga hari ini aku masih merasakan luka yang perih karena aku harus kehilangan harapan dan cintaku. Hingga hari ini aku masih dipenuhi oleh amarah dan rasa iri akan kebahagiaan kalian. Sampai beberapa menit lalu aku selesai nonton eat pray love yang diputar di tv cable. Aku tertegun di atas kasur. Aku menahan sesak di dadaku. Aku cuman mampu memandang hamparan hijau dari balik kaca jendela kamar hotelku. Hanya dengan begitu aku mampu mengalihkan air mata yang akan tumpah.

Sampai akhirnya aku membuka facebook, mengaduknya, lalu menemukan catatan-catatan kecilku 5 tahun yang lalu. Catatan di tahun 2009 ketika aku menemukan cinta 🙂

Hanya ada 2 pilihan saat ini di hidupku. Tetap menyimpan sakitku dalam perjalananku, atau memilih untuk berdamai, memaafkan diri sendiri lalu menyembuhkannya. Aku tidak tahu bagaimana caranya, menghilangkan semua sakit, ketakutan dan trauma ini. Tapi aku akan tetap berjalan.

Dear you two, akupun memutuskan untuk berdamai. Cukup panjang waktu dan proses yang kulalui. Dan akupun tidak tahu kapan ini akan berakhir. Namun aku harus menyampaikan maaf buat kalian berdua, karena selalu ada doa yang tidak baik dalam lantunan harapanku untuk kalian berdua.

Ya. Cinta memang tidak pernah salah memilih. Meskipun konsekuensi dari semua itu adalah mungkin ada yang merasa sakit.

Hari ini, perjalanan penyembuhan itu aku mulai. Aku minta maaf untuk semua perbuatan tidak menyenangkan yang kalian terima. Aku minta maaf untuk semua doa tidak baik yang aku kirim untuk kalian. Aku minta maaf karena ada yang sempat merasa tidak kuhargai dan tidak kuperlakukan dengan baik.

Aku menerima bahwa semua orang datang dalam hidupku ini untuk mengajarkan sesuatu buat aku. Dan kalian berdua adalah guru untukku. Hari ini aku melihat postingan seorang teman yang lagi mendengarkan lagu Rapuh punya Padi. Ya. Proses seperti ini bukan hanya milikku.

Aku hanya berharap, di penghujung tahun ini, aku ingin mengakhiri segala hal ga baik yang ada di hidupku. Melangkah dengan kedamaian dan harapan. Dan menyematkan senyum ketika memandang kalian. Aku ingin, sebelum Natal menjemputku, aku telah bersihkan hati dan pikiranku dari segala amarah.

Lepas dari semuanya, aku merasa bahagia ketika orang yang kucintai bahagia. Yang harus kuhilangkan hanyalah perih dan dendam yang datang bersamaan.


CHOICE, CHOOSE, CHOOSEN

Masih sering sebagian dari kita dalam menentukan keputusan, memilih pilihan – masih sangat peduli dengan apa kata orang. Dalam hal ini konteksnya adalah, mereka masih sangat memperhitungkan penilaian orang terhadap dirinya. Pada posisi pertama yang dipedulikan adalah apa kata orang tentang dia, bukan lagi pada kepedulian akan nilainya.

Teman-teman, sadarkah kita bahwa ada begitu banyak orang di sekitar kita. Tak satupun dari mereka yang tidak menilai kita. Semua pasti akan menilai, minimal hal itu hanya akan disimpan dalam pikirannya. Jika demikian, akan kita alokasikan berapa banyak energi untuk itu?

20140627-221628.jpg

Mempedulikan penilaian orang akan siapa kita, bukanlah hal yang salah. Apalagi dosa. Tapi jika itu berlebihan, bila hal itu menjadi penghalang buat kita dalam mengambil keputusan dengan lebih jernih, saya rasa itu tidaklah tepat. Kita hidup dalam sorotan setiap orang. Yang wajib kita lakukan adalah menjaga diri kita sebaik mungkin supaya tetap sesuai dengan peran kita.

Hidup kita ini dipenuhi dengan banyak peran. Bertindak dan berperilaku sesuai dengan peran kita, adalah langkah yang selalu saya upayakan untuk saya ambil. Bukan berarti saya bukanlah orang yang tidak pernah peduli apa penilaian orang terhadap saya. Tidak demikian. Dulu saya selalu memperhitungkan tentang penilaian orang terhadap saya. Namun apa yang terjadi kemudian dalam hidup saya? Saya lalu menjadi orang yang takut melangkah, takut memilih dan takut untuk berbuat sesuatu. Hidup saya menjadi sangat ‘ramai’. Penuh dengan ‘kepedulian’ saya terhadap apa yang disebut: kata orang. Pengalaman membuat saya belajar bahwa, sikap itu lebih banyak membawa dampak yang desdruktif buat hidup saya.

Sore tadi saya berdiskusi panjang dengan seorang teman tentang sebuat keberanian untuk memilih. Dia dan saya sama. Kita memiliki sebuah kesempatan untuk memilih. Tentunya, masing-masing kita telah memiliki litani kriteria yang akan dipilih. Namun, tak satupun pilihan tersebut sesuai dengan semua kriteria. Tak ada satupun segala sesuatu di dunia ini yang sempurna pada ukuran kita. Tidak. Setiap momen yang tercipta antara kita dengan si A pasti akan berbeda dibanding kita dengan si B. Setiap kesempatan, setiap pilihan dan setiap pengalaman akan memberikan sesuatu yang berbeda satu sama lain. Tak akan pernah sama. Nah pertanyaannya, apakah adil jika saya dan kamu melakukan perbandingan dengan yang lalu? Jika tuntutannya adalah demi menuju yang lebih baik, maka seharusnya proses untuk menjadi lebih baik perlu disepakati dan diupayakan bersama.

Pada akhir perjalanan, saya hanya mampu berkata, biarkanlah hati kita yang memilih. Bukan deretan kriteria. Bukan juga rentetan kesibukan pada apa penilaian orang. Kamu akan terkejut nanti jika menemukan ternyata hati memilih pada pilihan yang bahkan tidak ada 50% nya sesuai dengan kriteria. Nah jika demikian, apa yang akan kamu lakukan?

Jangan terlalu serius berpikir. Nikmati apa yang telah Tuhan sediakan saat ini. Semua pengalaman di masa lalu adalah bekal yang cukup buat kita dapat mandiri dalam bertindak, mandiri dalam berpikir dan mandiri dalam rasa. Hanya saja, apakah kita cukup mampu untuk menyadari, untuk menghayati setiap jengkal proses dan pengalaman hidup yang Tuhan telah sediakan buat kita?

Love will find you!


SEMUA ADA DENGAN BATASANNYA

Suatu malam, seorang sahabat membangunkan tidurku. Ia panik sekali. Sepanik nyamuk yang merasa terjebak. Suaranya kencang mengaung. Ada sahabat kami yang sedang bertikai dan terancam konflik ini akan berrkepanjangan.

Dengan setengah nyawa aku membuka mata dan membuka grup chatting kami. Aku kaget. Sahabat belasan tahunku menumpahkan segala kekesalannya di situ. Satu hal yang belasan tahun, tidak pernah sedetik pun aku lihat dia tunjukkan kepada siapapun. Dalam hati aku bilang, ini pasti akumulasi.

Secara personal aku chat dia untuk menanyakan ada apa. Jujur aja ada rasa takut dan cemas merayap. Karena ini bukan dia biasanya. Akhirnya dengan panjang lebar dia bercerita tentang semua rasa yang ia pendam selama ini.

Malam itu aku merenung. Pada batasan mana yang telah dilanggar sehingga seorang sahabatpun dapat berubah menjadi orang yang berbeda dari biasanya. Aku menyadari satu hal. Sedekat apapun kita, bersahabat sampai selayaknya sodara, teman-teman…tetaplah semua itu memiliki batasannya.

Seringkali kita tidak menyadari bahwa segala sesuatu itu memiliki batasan. Sebuah batas toleransi yang jika ditembus paksa pasti akan ada konflik yang menyertai. Ini yang mereka alami. Sebagai seorang sahabat sedekat apapun, kita harus tetap sadar, pada batasan mana kita dapat ditoleransi untuk bertindak. Bermaksud untuk bercanda, tapi jika itu melanggar batasan seseorang, dampaknya akan seperti banjir bandang yang menghancurkan semua.

Setiap kita dituntut untuk memiliki kepekaan saling melihat dan merasakan. Sejauh mana kita boleh bertindak jauh, dan sejauh apa. Setiap kita memiliki karakter yang unik, yang pada tingkat toleransi tertentu, kita tak lagi mampu menahan gelisah, amarah dan kecewa.

Jika kita berharap persahabatan kita akan tetap terpelihara, sudah selayaknya, kita tidak semaunya. Sudah sepantasnya jika kita tidak egois, mau merendahkan diri kita untuk saling melihat dan merasakan satu sama lain. Tidak hanya menuntut untuk dituruti atau diperhatikan, didengarkan atau dilindungi – tapi juga melakukan semua itu juga untuk sahabatnya.

Memelihara memang sulit. Namun selama kita selalu menyadari batasan itu, sejauh kita sadar bahwa kita harus berusaha untuk menjaga, menghargai dan menghormati orang lain – semua usaha kita tidak sesulit kelihatannya. Semua yang kita miliki di dunia ini memang tidaklah abadi. Tapi bukan berarti kita boleh menyia-nyiakan yang telah kita miliki saat ini.

Teman, semua pelajaran ini sungguh sangat mahal harganya. Bukan. Bukan kita dituntut untuk munafik, namun kita hanya diminta untuk tau di mana batasan kita, menghargainya dan menghormatinya. Kejujuran memang baik bagi relasi apapun. Namun jika tidak disertai oleh tanggung jawab, dia akan menjadi senjata yang kembai menyerang kita.

Jika semua sudah terjadi, luka sudah terlanjur ada….percayalah! Sembuh itu adalah sebuah kata yang jauh letaknya.

Semoga semua kita dapat menjaga, memelihara dan menghargai setiap sahabat kita. Siapapun dia!

20140613-235950.jpg


CINTA PADA KRITERIA

20140516-223424.jpg

Setiap orang pasti memiliki kriteria-kriteria khusus tentang siapa yang akan dijadikan pasangan hidupnya kelak. Biasanya para cewek pasti akan mencari calon suami yang mapan. Sisanya adalah kriteria tambahan yang diterapkannya. Dan para cowok biasanya akan mencari calon istri yang cantik luar dan dalam yang tentunya juga menurut pada suami. Sisanya dia yang tentukan. Bahkan di banyak artikel, pada agama tertentu mengajarkan supaya umatnya mencari calon pendamping hidupnya kelak dengan beberapa kriteria yang sudah disarankannya.

Yang paling banyak disebutkan pada kriteria yang wajib dipenuhi sebagai calon pasangan hidup adalah yang baik. Baik seringkali mengaburkan. Karena banyak orang yang mencari orang baik, maka seringkali orang akan berusaha tampil baik untuk memikat calon pasangannya. Karena dalam baik biasanya tidak ada kriteria konkret. Ia hanya mampu dirasakan.

Sebenarnya baik itu relatif. Saya percaya setiap kita ini dilahirkan menjadi orang baik. Mungkin akan kelihatan tidak baik jika memang bukan pada pasangannya. Bukankah magnet bila kutub yang tidak ditakdirkan berpasangan, jika didekatkan akan tolak menolak?

Pernah saya bertanya kepada teman-teman saya yang sudah berpasangan, kenapa mereka memilih pasangan mereka. Selalu satu kata pertama yang diucapkan adalah karena dia baik. Ya, baik sudah menjadi kriteria umum. Sedikit orang yang memasukkan kriteria di luar baik ini dalam kriteria mereka mencari pasangan hidup.

Dengan budaya yang ada di Indonesia, kriteria selanjutnya yang sering disebut adalah seagama dan sesuku. Ini yang penting juga. Karena agama adalah landasan kita dalam berpikir dan bertindak. Tidak berbeda saja banyak masalah yang dihadapi, bagaimana jika berbeda? Itu sama saja memasukkan diri dalam pencobaan.
Begitu kalimat yang sering mereka dengungkan dulu kepada saya.

Ya. Semua akan memiliki kriteria dalam mencari pasangan. Bukan karena sombong melihat diri terlalu tinggi. Tapi kriteria ini adalah sebuah penilaian yang dianggap mampu untuk mengisi dan menselaraskan perjalanan hidup kita di tahap-tahap selanjutnya. Kriteria-kriteria itu merupakan filter kita dalam mencari pasangan kita. Bahkan bisa jadi jika kita tidak menerapkan kriteria tertentu, orang akan melihat kita sebagai sosok yang gampangan. Namun jika kita keukeuh mencari yang sesuai dengan semua kriteria kita, orang akan memicingkan mata dan berkata, “dasar pilih-pilih. Kayak situ kecakepan aja”. Hahahahhahahaha….

Ya. Sepertinya lebih sedikit orang yang beruntung yang berjodoh dengan pasangan yang sesuai dengan kriteria idamannya. Namun, apakah benar dalam segala sisi semua terpenuhi? Misalnya kita menerapkan 3 kriteria ideal pada pasangan kita, apakah lalu semua akan berjalan mulus dan sempurna? Hohohohoho…tentu saja tidak! Mungkin 3 kriteria itu telah terpenuhi, tapi apakah karakter lainnya dapat ditoleransi? Pada tahap ini nanti, tentu ada adaptasi yang harus dijalani. Tidak mudah. Sangat tidak mudah.

Lepas dari segala kriteria itu, adalah cinta yang utama. Ketika cinta sudah menyapa, tidak sedikit orang terheran-heran. Karena terkadang cinta jatuh pada seseorang di luar kriteria-kriteria khusus yang dipancangkan. Cinta terkadang memang penuh misteri. Namun cinta juga tidak melepas logikanya. Saat Sang Cinta sudah mempertemukan, sejauh apapun hati berusaha berlari, ia akan tetap mengikuti.

Memegang teguh kriteria ideal idaman memang perlu. Namun, semua bisa lebur saat cinta telah ada. Dimana ada cinta, di situlah kebahagiaan kita berada. Karena hanya cinta yang akan memberi kita iman dan harapan untuk tetap berjuang.


HIDUP ADALAH SEBUAH JABATAN

Hidupku milikNya.
Waktuku milikNya.
Tak ada secuilpun rencanaku,
Yg ga harus sinkron dgn rencanaNya.
Maka berserah adalah bagian dr job desk kita.

#sendang

View on Path