CHOICE, CHOOSE, CHOOSEN

Masih sering sebagian dari kita dalam menentukan keputusan, memilih pilihan – masih sangat peduli dengan apa kata orang. Dalam hal ini konteksnya adalah, mereka masih sangat memperhitungkan penilaian orang terhadap dirinya. Pada posisi pertama yang dipedulikan adalah apa kata orang tentang dia, bukan lagi pada kepedulian akan nilainya.

Teman-teman, sadarkah kita bahwa ada begitu banyak orang di sekitar kita. Tak satupun dari mereka yang tidak menilai kita. Semua pasti akan menilai, minimal hal itu hanya akan disimpan dalam pikirannya. Jika demikian, akan kita alokasikan berapa banyak energi untuk itu?

20140627-221628.jpg

Mempedulikan penilaian orang akan siapa kita, bukanlah hal yang salah. Apalagi dosa. Tapi jika itu berlebihan, bila hal itu menjadi penghalang buat kita dalam mengambil keputusan dengan lebih jernih, saya rasa itu tidaklah tepat. Kita hidup dalam sorotan setiap orang. Yang wajib kita lakukan adalah menjaga diri kita sebaik mungkin supaya tetap sesuai dengan peran kita.

Hidup kita ini dipenuhi dengan banyak peran. Bertindak dan berperilaku sesuai dengan peran kita, adalah langkah yang selalu saya upayakan untuk saya ambil. Bukan berarti saya bukanlah orang yang tidak pernah peduli apa penilaian orang terhadap saya. Tidak demikian. Dulu saya selalu memperhitungkan tentang penilaian orang terhadap saya. Namun apa yang terjadi kemudian dalam hidup saya? Saya lalu menjadi orang yang takut melangkah, takut memilih dan takut untuk berbuat sesuatu. Hidup saya menjadi sangat ‘ramai’. Penuh dengan ‘kepedulian’ saya terhadap apa yang disebut: kata orang. Pengalaman membuat saya belajar bahwa, sikap itu lebih banyak membawa dampak yang desdruktif buat hidup saya.

Sore tadi saya berdiskusi panjang dengan seorang teman tentang sebuat keberanian untuk memilih. Dia dan saya sama. Kita memiliki sebuah kesempatan untuk memilih. Tentunya, masing-masing kita telah memiliki litani kriteria yang akan dipilih. Namun, tak satupun pilihan tersebut sesuai dengan semua kriteria. Tak ada satupun segala sesuatu di dunia ini yang sempurna pada ukuran kita. Tidak. Setiap momen yang tercipta antara kita dengan si A pasti akan berbeda dibanding kita dengan si B. Setiap kesempatan, setiap pilihan dan setiap pengalaman akan memberikan sesuatu yang berbeda satu sama lain. Tak akan pernah sama. Nah pertanyaannya, apakah adil jika saya dan kamu melakukan perbandingan dengan yang lalu? Jika tuntutannya adalah demi menuju yang lebih baik, maka seharusnya proses untuk menjadi lebih baik perlu disepakati dan diupayakan bersama.

Pada akhir perjalanan, saya hanya mampu berkata, biarkanlah hati kita yang memilih. Bukan deretan kriteria. Bukan juga rentetan kesibukan pada apa penilaian orang. Kamu akan terkejut nanti jika menemukan ternyata hati memilih pada pilihan yang bahkan tidak ada 50% nya sesuai dengan kriteria. Nah jika demikian, apa yang akan kamu lakukan?

Jangan terlalu serius berpikir. Nikmati apa yang telah Tuhan sediakan saat ini. Semua pengalaman di masa lalu adalah bekal yang cukup buat kita dapat mandiri dalam bertindak, mandiri dalam berpikir dan mandiri dalam rasa. Hanya saja, apakah kita cukup mampu untuk menyadari, untuk menghayati setiap jengkal proses dan pengalaman hidup yang Tuhan telah sediakan buat kita?

Love will find you!

About sendangsiena

Talking talking it's not just talk View all posts by sendangsiena

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: