KERAKUSAN DAN RUSAKNYA RELASI

Aku punya teman yang sangat agresif sekali mengenai makanan. Entah karena memang ada keterbatasan pada kemampuan membeli makan, atau karena memang seleranya pada makanan yang tanpa pilih-pilih itu sangat tinggi. Apapun itu.

Perkara makanan memang perkara yang sangat sensitif. Urusan makan memang urusan yang sangat sangat primer sekaligus menjadi urusan yang sangat sangat private. Nah, lo…..urusan primer yang menjadi private ini memang tidak mudah.

Setiap kali tempatku mengadakan acara – yang pasti ada acara makan – temanku itu selalu “mengincar targetnya”. Aku sebut gitu karena memang bahasa tubuhnya sangat mewakili isi otaknya. Ketertarikan otak dan hati pasti akan turun pada sikap dan perilaku. Itu sudah hukumnya. Dan ketika itu, bahasa tubuh kita tak lagi mampu menipu. Kalau saja tamu undangan adalah teman-teman sendiri sih gak apa-apa. Tapi kalau posisi kita yang mengundang tamu lain sekelas investor begitu, ya sepertinya sikap harus dijaga juga.

Di sebuah restoran di kawasan Surabaya Selatan, kami mengundang para investor untuk makan malam sambil pre launch produk baru kami. Seperti biasa, undangan akan didahulukan untuk bersantap malam. Namun temanku satu ini, sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Sebelum makanan disiapkan di meja hidangan saja, matanya bolak balik sudah mencuri pandang ke meja hidangan. Saat acara makan dimulai, segera dia ambil posisi untuk menikmati hidangan. Gak tanggung-tanggung, piringnya segera penuh dengan hidangan. Jika sebatas ini saja, aku masih menutup mata. Tapi ternyata, sikapnya itu tidak bisa dikendalikan. Hingga lauk terakhir disantap juga.

Ini bukan kali pertama dan terakhir. Pernah satu kali kami bersama diundang untuk menghadiri satu acara oleh kolega kami yang tentu saja ada acara makan malam. Seorang teman menggoda dia dengan mengatakan, “Wah, makanan sisa masih banyak ya. Bisa diminta untuk bungkus ini.” Dan di akhir acara, dia segera meminta pelayan untuk membungkuskan makanan itu. Ya, ampun. Temanku si penggoda tadi kaget. Dia tidak sangka bahwa teman kami itu akan melancarkan serangannya sedemikian rupa.

Karena sudah tidak tahan dengan sikap dan perilakunya terhadap makanan itu, sering dari kami menegurnya secara langsung maupun tak langsung. Memang, banyak sekali alibi pembenaran dari dia. Banyak konflik, sakit hati dan adu mulut yang muncul. Namun sekali lagi sering tidak merubah perilaku. Hingga satu malam, karena lelah dan jengkel, teman cewekku menegurnya dengan keras sekali – baik itu mengenai makanan maupun mengenai pekerjaan. Alhasil, di malam itu pada acara Gathering Investor yang lain, temanku itu mogok makan. Dia tidak mau makan sama sekali, meski kami paksa. Sikap yang dipilihnya itu berlanjut terus sampai di acara-acara berikutnya pada hari dan bulan yang berbeda. Tak hanya itu. Perubahan perilakunya juga ditunjukkan dalam keseharian dia di kantor. Ia jadi tidak mau menyentuh sama sekali makanan ataupun minuman yang dibawa oleh rekan-rekan kantor maupun pemberian (kecuali air mineral fasilitas kantor). Jika ada yang sangat memaksanya maka ia akan berkontribusi untuk makan atau minum.

Bagiku, hal ini justru sangat ganjal. Rekanku pernah mengatakan pada dia yang intinya bahwa meskipun kita sangat butuh makan, janganlah itu secara eksplisit ditunjukkan ke orang lain. Sebenarnya sangat tidak enak ketika perkara makan saja menjadi satu keributan. Apalagi jika itu merubah perilaku seseorang. Kita ada di budaya Timur. Unggah-ungguh, tata krama tetap dibutuhkan. Hal tersebut harusnya tidak menjadi satu konflik tertentu. Tapi ketika hal itu berubah menjadi satu sikap yang “hampir tidak terkendali”, apalah mau dikata.

Sebenarnya yang dibutuhkan orang lain adalah kemampuan diri kita dalam mengendalikan diri atas apapun. Apalagi bila kita berada di tempat umum dan bersama orang lain yang belum kita kenal. Terkadang kematangan dan kedewasaan diri seseorang ditentukan pula dari kemampuan dia dalam mengendalikan dirinya, mengendalikan egonya, emosinya dan kecakapan dia dalam mengambil sikap dan perilaku. Ketika kita memiliki kemampuan itu, orang lain pun akan mengikuti. Kitapun akan disegani dan dihormati.

Memang….merambah ranah kebutuhan primer manusia itu sangat sensitif. Namun demi performance – apalagi jika sikapnya itu dipandang salah satu yang mewakili performa perusahaan – langkah peneguran memang harus dilakukan. Tapi juga bukan berarti bahwa kebiasaan itu hilang sama sekali. Yang dibutuhkan bukannya tidak ada, bukan itu. Kita semua menghormati keunikan yang dimiliki oleh orang per orang. Tapi jika keunikan itu tidak dikendalikan maka orang lain akan sulit menerimanya. Hal ini yang akhirnya menjadi penyebab rusaknya relasi seseorang.

Pengendalian diri, pada batasan norma kesusilaan yang wajar. Hanya itu saja yang dibutuhkan.

 

by : SendangSiena

About sendangsiena

Talking talking it's not just talk View all posts by sendangsiena

2 responses to “KERAKUSAN DAN RUSAKNYA RELASI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: