Keseimbangan

Pernahkah ketika kamu mendapatkan cinta, pada saat yang sama kamu belajar untuk kehilangan cinta itu? Aku rasa itu adalah hal yang tidak terpikirkan. Ketika kebahagiaan datang, seringkali perhatian kita akan tercurah untuk menikmati kebahagiaan itu. Demikian pula sebaliknya. Ketika kepedihan singgah, seringkali kita terpaku pada kesedihan itu. Kita selalu membutuhkan waktu untuk ‘menikmati’ kebahagiaan dan ataupun kepedihan yang kita rasakan. Tak jarang, tanpa sengaja, kita meninggalkan kebiasaan kita demi rasa itu. Jika sikap ini berlebihan, kita sering menyebutnya dengan euforia.

Rhoma Irama pernah berlagu, segala yang berlebihan itu tidaklah baik. Semua sedang-sedang saja. Itu yang sebaiknya. Aku jadi teringat kata-kata bosku. Dia selalu mengajarkan kepadaku untuk tidak mudah terbawa suasana hati. Toh semua itu tetap terjadi dan akan berlalu. Dia selalu mengajarkan bahwa jika kita bahagia, jangan direspon sebagai kebahagiaan dengan berlebihan. Dan jika kita sedih, jangan direspon dengan kesedihan yang berlebihan. Hidup ini terus berjalan. Jika di detik yang berjalan ini kita menghentikan hidup kita dengan menikmati euforia kita, lalu, apa yang kita dapatkan?

Dia selalu mengatakan, semua rasa dan semua kejadian di sekeliling kita ini adalah sebuah sensasi. Dan sensasi itu bukanlah satu kemurnian. Ia hanya tertangkap oleh indra kita dan ‘menggoda’ kita untuk merespon, merasakan dan menikmatinya hingga kita terlena. Sakit dan senang…semua itu adalah sensasi yang cukup kita respon sewajarnya.

Menurutku, jatuh cinta itu adalah sebuah takdir. Dan mencintai itu adalah sebuah pilihan. Ketika kita jatuh cinta, semua terasa indah. Tak jarang saat kita jatuh cinta, kita menjadi ‘lupa’ pada hal lain di luar cinta itu. Saat kita baru memiliki kekasih, perhatian dan intensitas kita dengan sahabat kita menjadi sangat berkurang. Atau bahkan, pekerjaan kita menjadi terlantar dan kurang mendapat perhatian. Saat kita jatuh cinta, saat itulah seolah dunia baru tercipta.

Aku jadi ingat pengalamanku sekitar 3 tahun yang lalu. Seorang sahabatku, saudariku baru saja menikah. Aku pikir, aku telah melakukan hal yang buruk ketika itu. Pada hari dia menikah, aku mengirimkan SMS kepadanya yang isinya adalah aku merasa cemburu dengan suaminya. Karena, suaminya akan merenggut mayoritas kebersamaanku dengan sahabatku. Namun dalam perjalanan waktu, proses mengajarkan kepadaku untuk menerima semua itu sebagai sebuah konsekuensi pilihan – memilih untuk membuka hati dan pikiran kita akan hadirnya sebuah cinta, cinta seorang sahabat.

Waktupun berlalu. Aku mendapatkan sebuah pekerjaan yang akhirnya pekerjaan itupun aku cintai. Sangat tertebak. Waktukupun banyak terkonsentrasi pada pekerjaanku. Saat itu, tanpa kusadari, dalam diamnya – seorang sahabatku sedang berproses dengan dirinya. Hingga suatu hari berganti tahun, dalam konflik kami, dia mengatakan bahwa sempat dia merasa cemburu dengan pekerjaanku yang telah mengurangi intensitas kebersamaan kami.

Sekali lagi. Tanpa kita sadari, cinta yang kita rasakan dan kita terima dapat memberikan rasa sakit pada pihak lain. Hidup ini adalah pilihan. Aku pikir, tak pernah ada sebuah pilihan yang salah. Semua itu terasa salah ketika segenap konsekuensinya tidak dapat kita terima dengan sepenuh hati. Kita akan mengatakan sebuah pilihan benar, ketika konsekuensinya dapat kita terima – lepas dari apakah itu sebuah konsekuensi positif ataukah negatif. Dan aku percaya, setiap masalah diciptakan beserta dengan solusinya. Ada yang mengatakan tidak ada solusi, hanya karena ia membutuhkan waktu yang panjang untuk menemukan solusi itu. Namun…semua ada jalan keluarnya. Apapun itu.

Dengan semua yang diberikan dunia, akhirnya memang letaknya bukan pada rasa maupun perasaan yang ada – namun pada bagaimana cara kita mengelolanya. Disitulah kesuksesan kecil dan besar akan kita ciptakan. Keseimbangan akan terjadi. Meski seringkali juga dipertanyakan, seberapa besar kesadaran kita untuk tidak terlena pada sensasi yang sedang kita alami. Tidak peduli apakah dia orang yang taat beragama ataupun tidak. Tidak peduli apakah dia seorang pembunuh ataukah seorang pastor. Selama dia adalah manusia, rasa dan perasaan yang dialami – sensasi yang dirasakan tak akan jauh beda. Sekali lagi, kuncinya hanya pada bagaimana kita mengelolanya. Tentunya variabel pendukungnya adalah keterbukaan dan kepenuhan hati juga pikiran untuk menerima setiap perubahan yang kadang tidak kita duga.

Dunia tidak memberikan keabadian kepada kita. Namun dia memberikan keseimbangan rasa untuk kita nikmati. Dari situlah kita akan selalu belajar untuk melengkapi dan menyeimbangkan setiap rasa yang kita rasakan. Dari situlah kita akan selalu menemukan kesegaran kehidupan kita. Dan dari situlah, kita akan menjadi tersenyum tatkala kita teringat pada peristiwa yang sangat menyakitkan yang pernah kita alami. Karena, tak pernah ada yang salah pada semua peristiwa yang pernah terjadi.

 

Surabaya, 3 Desember 2009

02:40 AM

by : SendangSiena

About sendangsiena

Talking talking it's not just talk View all posts by sendangsiena

One response to “Keseimbangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: